Monday, April 22Referensi Bisnis Sumatera Selatan
Shadow

Semua Berawal dari Kain Bekas

citra-songket

Kain sisa songket sepertinya tak akan dilupakan Owner Citra Songket, Kartika Dayani. Berawal dari itulah, kini dia bisa mengembangkan bisnisnya hingga bertumbuh positif.

———————————————-

Kartika Dayani memulai bisnis sejak 25 tahun lalu. Saat itu, ia harus banting tulang bersama suaminya, Syofian. Awalnya, ibu dari empat anak ini hanya memanfaatkan kain-kain sisa songket untuk menghidupi anak-anaknya yang masih balita. Keduanya menjadikan kain songket sisa tak terpakai untuk dibuat souvenir.

Ada tiga jenis souvenir yang waktu itu digarap. Seperti gantungan kunci, dompet, dan kipas. Sehari-hari, sambil mengasuh anak-anaknya yang masih kecil, keduanya menghasilkan tak begitu banyak produk.

Lalu, usai dikumpulkan, dengan menggunakan sepeda, Kartika dan suaminya membawa souvenir itu ke kawasan Ilir Barat Permai dari rumahnya di Suro, Kecamatan Ilir Barat II. Kedua balitanya dititip ke saudara mereka.

“Waktu itu, sudah jadi kegiatan sehari-hari buat souvenir, untungnya pemilik toko disana mau menerima,” kata Kartika ketika dibincangi Ekonomisumsel.com di lokasi usahanya di Jalan Sultan M Mansyur Palembang.

Terkadang, rezeki datang. Ada beberapa pemilik toko yang memesan dalam partai besar. Namun, Karena tak mampu menerimanya. Kartika mengajak teman-teman dan sahabatnya untuk membuat souvenir tersebut. “Untungnya kecil, tapi jika tidak begitu bagaimana mau menghidupi anak-anak,” ujarnya.

Seiring waktu berjalan, keuletan Kartika mendapatkan respons positif dari keluarganya. Ada beberapa yang meminjamkan modal bisnis kepadanya. Disitu, Kartika bisa membuat produk songket tersendiri. Dirinya, mempekerjakan beberapa penenun untuk membuat kain tradisional Palembang tersebut.

Dengan semangatnya untuk hidup, Kartika tak jarang bolak-balik seberang ulu dan seberang Ilir dengan menggunakan motor Vespa yang waktu itu bisa dibeli setelah mengumpulkan uang dari keuntungan menjual souvenir.

Terik matahari tak menjadi lawan bagi Kartika dan suaminya. Apalagi, anak-anaknya juga harus sekolah. “Waktu itu, malah saat sedang mengandung anak saya yang terakhir sempat kecelakaan juga karena rem motor vespa blong, tapi alhamdulillah semuanya tidak apa-apa,” terang dia.

Produk songket yang dihasilkan juga tak semudah itu laku. Dirinya butuh kerja keras juga untuk menjual lagi. Terkadang, pemilik toko menawarnya dengan harga yang sangat murah. Namun, mau tak mau harus dijual walau untungnya tak sesuai harapan.

Akan tetapi, itu tak jadi halangan bagi Kartika untuk berbisnis. Sedikit demi sedikit uang yang dikumpulkan mulai banyak. Usahanya ikut tumbuh. Akhirnya, ada bantuan dari PT Bukit Asam (PTBA) yang memberikannya modal lebih besar lagi untuk berbisnis.

Pegawai yang dimiliki akhirnya bertambah juga. Bahkan, dibawah rumah kayunya, Kartika membuat tempat baru. Disitulah, Kartika mempekerjakan para penenun-penenun. Jumlahnya ada sekitar lima orang. Setiap hari, mereka membuat songket dengan motif yang telah ditentukan oleh dia.

“Mereka ikut bekerja sama-sama dirumah, dulu dari pagi sampai sore. Tapi sekarang, mereka sudah bekerja di rumah masing-masing, saya hanya tinggal mengantarkan bahan-bahan saja,” jelasnya.

Waktu-demi waktu berjalan. Rezeki kian mengalir. Sampai akhirnya, PTBA yang memberikan pinjaman kepadanya memberikan kesempatan kepada Kartika Dayani untuk mengikuti ajang-ajang pameran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Baik yang diadakan Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kota melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Beberapa ajang pameran, mulai dari Kota Palembang, Jakarta, hingga Bali pun diikuti Kartika Dayani. Dari situlah, bisnis yang dimiliki Kartika semakin berkembang pesat. Banyak pelaku bisnis besar, khususnya dari ibukota mengenal Kartika.

“Iya, sering ikut dulu, bahkan sempat bertemu dengan pejabat-pejabat, mulai dari Walikota, Gubernur, hingga Menteri juga pernah,” ceritanya.

Merekapun mulai percaya dengan produk yang dihasilkan Kartika Dayani. Tak ayal, pesanan songket makin membanyak. Bahkan, mereka bersedia menyetok produk tersebut di tokonya. “Harganya juga berbeda dengan yang dibeli oleh pelaku bisnis di Palembang,”  katanya.

Dari situ, Kartika terus mengembangkan produknya. Songket-songket yang ada juga dibuat menjadi pakaian baik untuk perempuan dan laki-laki. “Sekarang juga kami menyediakan batik Palembang, siapa saja boleh pesan disini,” tegasnya.

Untuk saat ini, banyak jenis songket yang bisa dipesan. Semuanya ada di Citra Songket yang menjadi brand Kartika Dayani. Mulai dari yang paling murah hingga yang paling mahal. “Sekarang tidak lagi buat souvenir, hanya fokus menyediakan songket saja. Paling saya harus sebulan dua kali ke Jakarta untuk menjualnya atau melakukan pengiriman songket,” pungkas Kartika. (med)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *