Thursday, August 22Referensi Bisnis Sumatera Selatan

Sumsel Ekspor 91 Ribu Kilogram Santan Kelapa

EKSEL – Provinsi Sumsel kembali melepas ekspor komoditas pertanian ke China dan Hongkong. Kali ini komoditas yang diekspor yakni santan kelapa sebanyak 91.800 kilogram atau senilai Rp 1.071.840.000.

Gubernur Sumatera Selatan H.Herman Deru menghadiri langsung acara pelepasan ekspor santan kelapa dari Provinsi Sumatera Selatan dalam rangka akselerasi ekspor komoditas pertanian Provinsi Sumatera Selatan di Pabrik PT. Kelapa Puncak Nusantara Jalan Raya Pipa Putih, Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (10/08/2019).

Menurut Herman Deru pelepasan ekspor komoditas pertanian dari Provinsi Sumatera Selatan diharapkan menjadi titik tolak bagi kita semua untuk senantiasa peduli terhadap peningkatan kesejahteraan petani yang merupakan faktor penting dalam upaya kita untuk peningkatan ekspor komoditas pertanian.

“Pelepasan ekspor adalah momentum untuk menguatkan komitmen kita semua dalam upaya meningkatkan nilai tambah dari hulu ke hilir”, ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Herman Deru juga menyempatkan diri untuk berkeliling pabrik dan meninjau prosesing pengolahan Kelapa Bulat hingga menjadi santan.

Selanjutnya, Gubernur Herman Deru melakukan pelepasan sekspor santan kelapa dari Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 3×40’ = 79.200 kg ke Haikou, Negara China dan 1×20’ = 12.600 kg ke Negara Hongkong. Total ekspor kedua negara yakni sebanyak 91.800 kg atau senilai Rp. 1.071.840.000,-.

Sementara Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Bambang Hesti Susilo menerangkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelepasan ekspor yang dilakukan pada 15 Maret 2019 lalu di Pelabuhan Boombaru Palembang. Adapun komoditas yang diekspor pada saat itu yakni produk mentah karet, kopi, dan kelapa.

“Kenapa ini dianggap penting, karena kita mencoba mencari solusi untuk mengatasi masalah dan mencari nilai tambah dari ekspor ini,” ungkap Bambang saat menyampaikan sambutannya.

Apalagi, kata dia, ekspor santan kelapa dari Sumsel ke China dan Thailand belum lancar. Hal tersebut dikarenakan kondisi kelembaban belum standar, akibatnya terjadi pembusukan di jalan saat diekspor. Untuk itu, pihaknya akan memberikan pemahaman kepada pelaku usaha.