Friday, June 25Referensi Bisnis Sumatera Selatan
Shadow

Hebat, Sepertiga Mitra Binaan Pertamina Adalah Kaum Hawa

EKSEL – Momentum hari Kartini, bisa dimaknai dengan upaya menghargai para kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya yaitu para srikandi Indonesia yang turut membantu kemandirian ekonomi bangsa melalui usaha mikro dan kecil (UMK) yang dimilikinya. PT Pertamina (Persero) melalui Program Kemitraan menjadi wadah pengusaha wanita ini berupaya menjadi UMK naik kelas.

Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina, Agus Suprijanto menjelaskan, dari total 65 ribu mitra binaan Pertamina mulai tahun 1993 hingga 2020, hampir sepertiganya dimiliki oleh seorang wanita. “Kurang lebih terdapat 22 ribu wanita pengusaha binaan Pertamina yang turut menjadi tumpuan roda perekonomian nasional” jelasnya.

Agus menambahkan, dari jumlah tersebut sebanyak 4.126 diantaranya bergabung dalam Rumah BUMN (RB) Pertamina yang tersebar di 30 titik di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah yang sangat besar ini tidak bisa disia-siakan begitu saja. Melalui beberapa program UMK naik kelas, Pertamina pun memberikan pelatihan, pendampingan, dan sertifikasi usaha.

Dampaknya pun cukup jelas terlihat. Pada tahun 2020 saja, terdapat sekitar 672 binaan wanita yang berhasil mengembangkan pasar baik di dalam maupun luar negeri. “Pencapaian yang luar biasa ini tidak terlepas dari komitmen mereka dalam berkontribusi untuk lingkungannya. Berupa penyediaan lapangan kerja untuk para rumah tangga dan para wanita dari golongan lemah lainnya” tutur Agus.

Hal ini senada dengan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8 yakni menyediakan pekerjaan yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga mendukung ESG (Environmental, Social & Governance) dibidang sosial. Dengan cara ini, Pertamina yakin dapat senantiasa menghasilkan manfaat ekonomi di masyarakat sesuai dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial.

Tanpa mengesampingkan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu bagi keluarganya, perempuan saat ini dapat menjadi penggerak perekonomian keluarga. Baik sebagai pendukung ekonomi maupun menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Banyak perempuan mengambil peran untuk membantu sang kepala rumah tangga menghidupi keluarganya. “Pertamina memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas segala upaya para srikandi ini,” pungkasnya.

Nurjannah adalah salah satu penerima manfaat Program Kemitraan Pertamina pemilik UMK Batik Mayana dari Kota Ternate. Sosok difabel perempuan ini terbilang sangat istimewa. Betapa tidak, semangatnya untuk memberi manfaat pada orang lain terutama sesama difabel sangat membara.

“Kondisi saya dan suami difabel. Namun saya ingin belajar usaha, tahun 2013 bergerak dibidang kuliner. Banyak teman yang penasaran, bagaimana bisa dengan kondisi seperti saya bisa menjalankan usaha. Akhirnya saya pun membuat pelatihan untuk para penyandang disabilitas,” terang Jannah.

Kini dia mengekspansi usahanya dengan memproduksi batik ecoprint Mayana. Nurjannah memberdayakan sekitar 32 penyandang disabilitas untuk membantu usahanya. Tidak hanya itu dia juga turut memberdayakan anak putus sekolah dan para janda di sekitar rumahnya. Hingga menjadikannya usaha dengan omzet ratusan juta dan produk yang berhasil menembus pasar internasional.

Sosok wanita hebat lain pengusaha binaan Pertamina adalah Nurchaeti. Pemilik usaha N&N Internasional ini layak menjadi inspirasi bagi kaum perempuan lain. Kegigihannya dalam mencari pundi-pundi ekonomi, mengantarkannya menjadi pengusaha wanita sukses seperti saat ini.

Siapa sangka, Nurchaeti adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja cukup lama di Singapura. Sepulangnya ke tanah air, dia mencoba memulai beberapa bisnis seperti usaha laundry hingga saat ini mantap berbisnis kuliner. “Ternyata margin jualan makanan gede juga, ya,” ujar Nurchaeti.

Benar saja, dengan modal Rp 100 ribu untuk membeli pisang tanduk dan bahan lain. Bisnis Nur perlahan mulai gemilang. Hingga puncaknya, di akhir tahun 2015, Nur bertemu dengan seorang distributor keripik di Brunei Darussalam di sebuah pameran. Tertarik dengan produk Nur, mereka pun sepakat menjalin kerjasama untuk memasarkan produk Nur di Brunei. Alhasil, produk keripik pisang Nur pun booming di negeri tersebut.

Jika awalnya usaha rumahan, kini Nur sudah memiliki workshop di daerah Karawang, Jawa Barat. Di sana, ia memiliki sekitar 260 tenaga kerja untuk membantu proses produksi keripik miliknya. Dengan mengusung usaha berbasis sociopreneur, ia banyak menggunakan jasa para mantan TKI yang sudah lanjut usia terutama dari kalangan ibu-ibu.**