Thursday, November 26Referensi Bisnis Sumatera Selatan
Shadow

Festival Serat Alam Diharapkan Pacu Industri Kerajinan

EKSEL – Untuk mengangkat dan memperkenalkan produk-produk kerajinan serta potensi kebudayaan termasuk mempertahankan kearifan lokal di Sumsel. Kali ini Deskranasda Provinsi Sumsel menggelar Festival Serat Alam dan Lomba Cinderamata Karya Kriya Sriwijaya Sumsel di Halaman Kriya Sriwijaya Jalan Sumpah Pamuda Palembang, Sabtu (21/11/2020).

Ketua Deskranasda Provinsi Sumsel Hj. Febrita Lustia Herman Deru mengatakan saat ini Deskranasda dengan program kerjanya selalu berupaya dan berkomitmen untuk melakukan kegiatan pembinaan serta edukasi kepada pengrajin di Sumsel agar terus berinovasi dalam mengembangkan prodak kerajinan dengan mengangkat kearifan lokal di daerah masing-masing.

“Festival ini sebagai bentuk kepedulian Deskranasda terhadap industri kerajinan yang terdampak pandemi covid-19 sehingga dapat melestarikan kebudayaan Sumsel dan diminati serta diketahui oleh masyarakat terutama generasi penerus,” terangnya.

Festival ini lanjut Febi bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Sumsel memiliki potensi yang bisa dioptimalkan untuk kemajuan kain tenun dan tekstil yang berbasis serat alam seperti serat nanas, pelepah pisang dan prodak unggulan lainnya. Hal ini juga menurutnya untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi, sektor industri dan sektor ekonomi kreatif di Sumsel.

“Acara ini sebagai salah satu bentuk promosi kita kepada masyarakat bahwa saat ini kita telah memiliki kriya sriwijaya sebagai wadah bagi para pelaku prodak kerajinan di Sumsel untuk membantu promosi serta pengembangkan prodak mereka kedepan, kami mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sumsel berkat dukungannya sehingga hadirnya Kriya Sriwijaya,” tutur Febi.

Selain itu, kehadiran dari Kriya Sriwijaya ini sendiri Febi menilai sebagai tempat rujukan untuk mencari informasi serta menyediakan prodak oleh-oleh/souvenir kerajinan khas Sumsel.Lebih lanjut Febi menyebutkan adapun Festival Serat Alam dan Lomba Cinderamata Karya Kriya Sriwijaya Sumsel terdiri dari pameran dan bazar, makanan tempo dulu , lomba cindramata etnik, payung etnik, dan lomba masker kain khas Sumsel.Lebih lanjut Febi mengatakan pada lomba cindramata karya sriwijaya ada dua kategori yaitu kategori Deskranasda Kabupaten/kota dan kategori umum. Kegiatan lomba ini juga sangat diminati oleh masyarakat dan juga Deskranasda Kabupaten/Kota se Sumsel. Untuk juri penilihan kerajinan yang ditampilkan itu adalah dari Dekranasda Pusat, Provinsi dan SMK 7 Palembang

Sementara itu, Gubernur Sumsel H Herman Deru mengapresiasi gagasan yang dilakukan oleh Deskranasda Provinsi Sumsel meski disaat pandemi covid-19 masih punya karya-karya yang luar biasa.Tak hanya itu saja, HD menilai keberadaan dari Kriya Sriwijaya itu sendiri yang telah difungsikan bangunannya tentu akan menjadi tempat bagi edukasi pemasaran prodak-prodak kerajinan Sumsel ditambah lagi setiap penjuru Sumsel punya prodak unggulan.

“Ini wajib bagi pemerintah untuk mendorong baik secara langsung ataupun tidak langsung yang berdampak kepada spirit bagi pelaku usaha yang membidangi karya tenun dan kerajinan lainnya,” katanya.Namun dibalik itu lanjut HD dalam menampilkan kerajinan dan prodak tersebut tentu kearifan lokal itu tetap dipertahankan. Seperti serat nanas, pelepah pinang, ini merupakan kearifan lokal yang memang harus dipertahankan.

“Di festival ini harus ada ruh yang timbul dalam upaya mempertahankan kearifan lokal. Jadi kepada Deskranasda jangn pernah lelah berbuat, jangan pernah malu menampilkan apa yang kita miliki karena setiap daerah punya ciri khas sendiri,” tuturnya HD.Tal lupa HD meminta kepada Ketua Deskranasda bersama Deskranasda Kabupaten/Kota Se – Sumsel untuk dapat bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dalam mengenalkan dan mempertahankan kearifan lokal kepada generasi penerus bangsa.”Jadikan muatan lokal meskipun ini tidak permanen.Doktrin ini kalau tidak kita mulai dari sekarang maka apa yang dibanggakan oleh leluhur kita maka akan punah. Kita boleh jadi manusia modern tapi kita jangan lupa dengan jejak sejarah,” tutup HD. (ril)