Saturday, September 21Referensi Bisnis Sumatera Selatan

Bisnis Syariah: Tidak Hanya Profit, Namun Juga Benefit

Abdul Rasyid Romadhoni

Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam dan keadaan ekonomi global masih mengalami krisis yang bergejolak, membuat masyarakat Indonesia kini banyak yang melirik pada bisnis syariah. Bisnis syariah dinilai lebih memberikan rasa nyaman dan aman bagi konsumen produk bisnis syariah. Bisnis syariah tidak hanya digeluti oleh suatu kelompok usaha kecil atau perorangan saja. Kelompok usaha yang besar termasuk pemerintah juga sudah mulai beralih ke bisnis syariah, dapat dilihat dari semakin banyaknya bisnis syariah yang mereka bangun seperti bank-bank syariah baik milik pemerintah ataupun swasta, Pegadaian syariah, Asuransi syariah, Investasi syariah, dan lain-lain. Selain itu, potensi bisnis syariah tidak hanya pada sektor keuangan, tetapi semakin luas dan berkembang seperti farmasi, kosmetik, kuliner, hiburan, bahkan pariwisata dengan berbasis syariah.

Konsep berbisnis secara syariah di Indonesia masih belum banyak dikenal dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun, semakin berkembangnya bisnis syariah di Indonesia diharapkan dapat membuka mata masyarakat mengenai manfaat jika menggunakan prinsip Islam. Manfaat yang paling terasa adalah mampu memberikan rasa aman, tentram, serta keberkahan. Tujuan inti dari berbisnis syariah haruslah untuk mendapat keberkahan dari Allah. Keberkahan menjadi bukti bahwa bisnis yang dijalani telah mendapat ridha Allah dan bernilai ibadah, serta merupakan bentuk dari diterimanya segala aktivitas manusia. Aktivitas ini juga dapat dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah. Setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah haruslah seimbang antara dunia dan akhirat, seimbang antara hubungan kita kepada Allah (Hablumminallah) dan juga hubungan kita kepada sesama makhluk Allah (Hablumminannas).

Pada prinsipnya islam menganjurkan agar sebuah bisnis tidak sekedar menitik beratkan pada profit yang semaksimal mungkin, namun juga harus mampu memberikan benefit (manfaat) secara nonmateri terhadap internal organisasi perusahaan serta eksternal (lingkungan sekitar). Tujuannya tidak lain adalah agar menciptakan rasa persaudaraan yang kuat dan meningkatkan kepedulian sosial. Manfaat yang dapat diberikan oleh pelaku bisnis dapat bersifat kemanusiaan seperti membuka lapangan pekerjaan, bantuan sosial (sandang, pangan, atau papan), serta bantuan lainnya.

Apabila profit secara materi dan nonmateri telah diraih oleh pelaku bisnis, selanjutnya adalah usaha untuk menjaga dan meningkatkan pertumbuhan bisnisnya. Perlu diingat dan diperhatikan, usaha untuk peningkatan bisnis harus masih dalam aturan atau prinsip syariah, tidak boleh melenceng atau dengan kata lain menghalalkan segala cara. Jika kita menjalaninya berdasarkan prinsip Islam berarti bisnis yang dijalani bertujuan untuk memberikan manfaat baik di dunia dan di akhirat.

Menurut Agus Yuliawan sebagai Pemerhati Ekonomi Syariah (www.neraca.co.id), peluang ekonomi syariah yang berkembang di tahun 2017 pada sektor pertanian dan manufaktur. Jika mengacu pada pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016, peran sektor pertanian pada pendapatan domestic bruto (PDB) selama ini menurun dari 15,19% menjadi 14,43%. Sedangkan kontribusi sektor kelautan hanya 3%. Namun sebanyak 38,07 juta jiwa atau 26,14 juta rumah tangga menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Terlebih lagi, impor produk pertanian terus meningkat dari US $3,34 miliar hingga hampir 5 kali lipat menjadi US $14,90 miliar. Oleh karena itu, betapa pentingnya untuk meningkatkan sektor pertanian dan kelautan serta manufaktur. Industri manufaktur berperan dalam meningkatkan diversifikasi produknya. Berdasarkan kajian tersebut, kedua sektor itu akan memiliki peluang yang sangat besar untuk pengembangan ekonomi di tahun 2017. Pelaku bisnis syariah harus dapat memanfaatkan peluang di dua sektor tersebut agar mampu mengintegrasikan dan terus mengikuti trend. Selain itu, Indonesia memiliki berbagai tempat wisata halal yang dapat dijadikan peluang untuk dikembangkan.(*)

* Oleh : Abdul Rasyid Romadhoni

Mahasiswa Master of Business Administration ITB